Di sudut-sudut Aceh Tamiang yang masih basah oleh sisa amukan banjir, para relawan PKS memilih beristirahat seadanya. Tak ada alas empuk, hanya banner bekas yang digelar di lantai dingin sebagai pembatas tipis antara tubuh letih dan tanah yang lembap. Mereka terlelap hanya sekejap—tidur singkat yang lebih menyerupai jeda napas daripada istirahat sesungguhnya.
Raga mereka jelas kelelahan, namun hasrat untuk terus bergerak jauh lebih kuat daripada rasa kantuk. Mata boleh terpejam, tetapi pikiran tetap terjaga, memikirkan tumpukan lumpur yang masih menggunung, rumah-rumah warga yang belum pulih, serta lingkungan yang menunggu tangan-tangan untuk kembali dibersihkan. Mereka sadar, waktu tak memberi ruang untuk berlama-lama beristirahat, karena tujuan mereka memang bukan untuk tidur.
Dengan tubuh yang dipaksa bangkit meski tenaga tersisa tinggal sedikit, para relawan kembali berdiri. Lumpur harus segera disingkirkan, sisa-sisa banjir harus dituntaskan. Dalam dingin malam dan sunyi yang panjang, para relawan PKS bertahan—bukan demi kenyamanan diri, melainkan demi memastikan luka pasca banjir di Aceh Tamiang ini bisa segera selesai dan kehidupan warga perlahan kembali berjalan.







